Untuk Respon Lebih Cepat Mengenai Pertanyaan Yang Berhubungan Dengan Artikel Di Maktabah Udiatama Silahkan Kirim Pesan Ke udy_hariyanto@yahoo.com

KISAH ANAK NAKAL DAN PAKU

Mungkin kisah ini sering didengar, tapi tidak apa diangkat lagi sebagai bahan perenungan.
Alkisah ada seorang bocah yang berperangai buruk, sangat nakal, selalu iri dan dengki bahkan tidak jarang tiap hari selalu membuat sakit hati teman2nya. Suatu saat bocah tersebut dipanggil oleh ayahnya dan dinasehati atas perbuatan-perbuatan buruknya, Lalu sang ayah memberikannya sebuah palu dan sebuah kantung berisi paku
“ Nak.. mulai hari ini tugasmu menancapkan paku ini di pintu kamarmu setiap kamu berperangai buruk terhadap orang lain..”Satu paku untuk satu perbuatan buruk…” lanjutnya lagi
Pada hari itu didapatinya seratus paku yang dia tancapkan di pintu kamarnya, lalu dihari kedua ada delapan puluhan paku yang dia tancapkan, dan semakin hari semakin berkurang paku yang dia tancapkan, akhirnya dia merasa lelah juga harus menancapkan paku di pintu kamarnya setiap dia melakukan hal buruk terhadap orang lain.
Lalu dia memutuskan bahwa mulai hari ini dia akan berusaha menjadi anak yang baik sehingga dia tidak perlu lagi menancapkan paku-paku itu dipintu kamarnya.
Tibalah suatu hari dimana dia sudah tidak perlu lagi menancapkan paku-paku itu, dengan bangganya dia menemui ayahnya“ Ayah… ikut aku, lihatlah pintu kamarku itu, sekarang aku sudah tidak perlu lagi menancapkan paku-paku ini ke pintu kamarku..” sambil menyerahkan kantung yang berisi sisa paku. Lalu ayahnya berkata, “ Sekarang tugas-mu adalah mencabut paku-paku yang tertancap dipintu itu, setiap kamu berbuat baik pada orang lain…, satu paku untuk satu kebaikan...”
Mulailah pada hari itu si bocah mencabut paku tersebut setiap kali dia melakukan kebaikan kepada orang lain, dan tibalah suatu hari sudah tidak ada lagi paku-paku yang harus dicabutnya, lalu diapun menemui lagi ayahnya“ Ayah.. kini sudah tidak ada lagi paku yang harus aku cabut di pintu kamarku itu..”Lalu ayahnya mengajaknya untuk melihat pintu itu bersama-sama,
“ Anakku.. lihatlah pintu kamarmu…, walaupun sudah tidak berpaku, tapi masih meninggalkan lubang-lubang kecil bekas paku yang kau cabut..” Artinya walaupun kamu sudah minta maaf dan berbuat baik terhadap orang yang pernah kamu sakiti, dan mungkin orang tersebut menerima maaf-mu, tapi luka dihati sangat sulit untuk dihilangkan, layaknya lubang bekas tancapan paku dipintu kamarmu yang sudah tidak bisa pulih seperti sedia kala..” lanjut sang ayah
Hikmah dibalik kisah ini adalah agar kita selalu menjaga lisan dan perbuatan kita agar tidak menyakiti hati orang lain, ke istiqomahan dalam akhlaq yang mulia adalah salah satu hal yang utama dalam kehidupan kita, bukankah Rasulullah SAW diutus oleh Allah tak lain untuk menyempurnakan Akhlaq manusia. 

No comments:

Post a Comment